7 Tips Bagaimana Bicara pada Anak tentang Diagnosa Kanker

7 Tips Bagaimana Bicara pada Anak tentang Diagnosa Kanker

Kanker bisa membuat kehidupan menjadi penuh ketidakpastian.  Tetapi satu hal yang jelas, yaitu bahwa komunikasi yang baik dengan anak sangat penting sewaktu orang tua sakit. Anak-anak, secara alami, mempunyai daya ber-imaginasi yang besar, sehingga bisa membuat situasi keluarga lebih tidak enak.  Bisa terjadi, anak berpikir bahwa kanker adalah penyakit menular dan terjadi pada orang tua mereka karena kesalahan anak tersebut.

Sangatlah penting, membicarakan kanker dalam bahasa yang dimerngerti oleh anak supaya anak mengerti dan tahu ke mana mesti bertanya pada waktu muncul pertanyaan.

Pada umumnya, anak bisa merasakan perubahan rutinitas dan dinamika di kehidupan keluarga sehari-hari, misalnya merasakan kapan orang tua mereka sedang sedih atau kuatir.  Jangan menunda  bicara pada anak untuk menyampaikan langsung berita tentang kanker sesudah di diagnosa.

Komunikasi yang terus terang akan membuat anak percaya dan hal ini akan membuat anak kembali pada orang tua untuk berani bertanya dan berbagi tentang perasaan mereka.

Bicara dahulu pada anak paling tua, bisa menolong penyampaian informasi lebih mudah pada adik-adiknya (anak yang lebih muda).

Di bawah ini beberapa tips untuk menyampaikan kepada anak tentang keadaan orang tua mereka yang baru di diagnosa kanker.

Berikut ini 7 Tips Bagaimana Bicara kepada Anak tentang Diagnosa Kanker:

  1. Rencanakan jauh hari yang mau dibicarakan
  2. Ingat, kita sebagai orangtua lah yang harus menentukan “nada” yang kita mau sampaikan, yaitu nada: “ini memang sebuah persoalan, tapi tidak usah terlalu kuatir”.
  3. Biarkan diri Anda menangis kalau memang ingin menangis di depan anak-anak. Menyembunyikan perasaan Anda hanya akan menambah kuatir anak-anak.
  4. Pilih waktu yang tepat, pada waktu Anda merasa tenang, untuk bicara pada anak.
  5. Yakinkan anak-anak akan ada yang mengurus mereka
  6. Yakinkan pada anak-anak bahwa mereka bisa bertanya atau bicara kapan saja mereka membutuhkan
  7. Selalu jujur dan terbuka pada anak tentang diagnosa kanker Anda

 

Anak akan mengerti hal yang disampaikan – sesuai dengan usia mereka.

Tergantung usia anak (sejak balita sampai remaja), cara anak memproses berita bahwa orang tuanya di diagnosa kanker, berbeda-beda.  Mari kita simak informasi di bawah ini untuk mengerti apa saja yang mungkin ada di pikiran anak-anak pada waktu tahu orangtuanya didiagnosa kanker, dan strategi apa yang mungkin bisa diterapkan.

Memberi tahu topik yang sukar atau berat, apapun itu topiknya, bisa rumit, termasuk tentang sakit berat.  Rasa cemas dan kuatir yang besar, selalu menyertai pikiran dan pembicaraan tentang kanker, dalam hubungannya dengan keadaan anak-anak. Diskusi dengan anak akan sangat tergantung dari umur anak dan tingkat kedewasaan anak.  Anak yang masih sekolah di sekolah dasar dan anak yang sudah remaja dan sudah kuliah, akan berbeda penerimaannya karena interpretasi masing-masing akan berbeda.

Dibawah ini garis besar cara anak berpikir tentang kanker (sesuai kelompok umur)

Bayi (0-2 tahun):

  • Tidak bisa mengerti sama sekali tentang sakit kanker
  • Tidak bisa merasakan perubahan rutinitas kehidupan
  • Bisa merasakan perasaan kuatir, sedih dan perasaan lain.

Balita umur 2-3 tahun:

  • Kemungkinan tidak bisa mengerti apa arti sakit berat
  • Hanya bisa mengerti persoalan dengan menurut pengertian sendiri
  • rewel, marah, atau ngambek sebagai cara untuk mengatasi perasaan tertekan

Balita umur 4-5 tahun:

  • Mengerti arti nya ‘sakit’ itu apa
  • Mungkin belum bisa mengerti arti ‘sakit berat’
  • Bisa membayangkan peristiwa diluar kenyataan/tidak benar, misalnya pendapat seperti bahwa ibu di diagnosa kanker karena ibu berdosa dan harus dihukum.

Usia sekolah umur 5-11 tahun:

  • Bisa mengerti perbedaan sakit ringan (seperti flu) dan sakit berat (seperti kanker)
  • Mungkin sudah menerima/dengar informasi yang tidak benar, misalnya bahwa kanker itu penyakit menular.
  • Pikiran/imajinasi yang timbul dan dipercaya oleh diri sendiri, seperti misalnya ibu didiagnosa kanker karena saya nakal atau salah.

Remaja usia 12-18 tahun:

  • Bisa mengerti kanker itu apa dan mengerti detil dari penyakit kanker.
  • Mungkin sudah mempunyai informasi yang tidak benar, misalnya orang yang sakit kanker pasti akan mati.
  • Bisa menerima konsep bahwa kehidupan dan kematian itu bagian dari kehidupan dan bisa mempertanyakan apa arti sebuah kehidupan.

Apa yang bisa di usahakan oleh orang tua untuk memperingan beban anak?

Pada dasarnya: kita sebagai orang tua lebih baik selalu bersikap terbuka dan jujur setiap membicarakan diagnosa kanker anda pada anak-anak.  Jelaskan bagaimana terapi yang dijalani akan mengakibatkan berbagai macam efek samping dan apa saja efek sampingnya dan akibat yang mungkin terjadi, dan dampaknya pada keseharian/rutinitas keluarga.

Usahakan, ada orang lain (misalnya anggota keluarga, guru di sekolah atau orang dewasa lain) yang anda dan keluarga anda percayai, dimana anak bisa bertanya ke orang kepercayaan keluarga tersebut.

Mengamati anak pada waktu anak anda bermain-main, bisa menjadi satu cara untuk mendapatkan informasi yang berguna dalam hal bagaimana anak anda memproses informasi tentang kanker yang sudah anda sampaikan.  Anak-anak sering memproses informasi tersebut dengan memikirkan, merasakan dan mengelola emosinya sambil bermain-main.

Maka, orang yang mengawasi anak-anak pada waktu mereka bermain, bisa membantu mendapatkan informasi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh si anak. Kalau ada salah pengertian pada si anak maka kita (orang dewasa) bisa membantu meluruskannya.

Contoh mendeteksi imajinasi anak yang bisa merugikan si anak, misalnya seorang anak bermain dengan boneka yang dikatakan sedang sakit kanker, dan si anak tidak mau lagi mencium bonekanya sebab si anak menganggap dia akan ketularan kanker.  Orang dewasa yang bertugas mengawasi si anak, bisa meng identifikasi salah interpretasi ini, dan bisa segera membenarkan pengertian yang salah ini.

Jangan pernah ragu atau takut konsultasi dengan dokter atau tenaga medis lain yang merawat Anda, tentang dialog dengan anak. Kalau mereka kurang bisa menolong, pikirkan datang ke seorang psikolog.

 

sumber: infokankerpayudara.wordpress.com

 

Have your say